









Di antara hamparan hijau Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, berdiri sebuah tempat yang memadukan keindahan alam dengan cita rasa kuliner lokal secara harmonis — iiBumi Kayu Tanam. Tempat ini bukan sekadar rumah makan, tetapi juga ruang rekreasi dan pengalaman kuliner yang mengedepankan konsep alami, ramah lingkungan, dan penuh ketenangan.
Dikelilingi oleh pepohonan rindang dan udara sejuk khas dataran rendah Minangkabau, iiBumi menghadirkan suasana yang menenangkan bagi siapa pun yang datang. Bangunan utamanya didesain dengan dominasi material kayu dan bambu, berpadu dengan elemen alam seperti batu dan air. Setiap sudutnya mencerminkan filosofi “kembali ke bumi” — sederhana, organik, dan menyatu dengan lingkungan sekitar.
Menu yang ditawarkan di iiBumi Kayu Tanam menonjolkan bahan-bahan lokal dan olahan tradisional Minangkabau yang diolah dengan sentuhan modern. Beberapa hidangan andalannya antara lain nasi kampung dengan lauk ikan bakar sambal lado, ayam pop, dan sayur pucuk ubi yang dimasak segar dari hasil kebun sendiri. Tak ketinggalan aneka minuman tradisional seperti teh talua, kopi arabika lokal, serta jus buah segar hasil panen petani sekitar.
Salah satu daya tarik utama iiBumi adalah konsepnya yang menggabungkan wisata kuliner dan edukasi alam. Pengunjung tidak hanya menikmati makanan, tapi juga dapat berjalan-jalan di taman, menyaksikan area pertanian kecil, atau sekadar bersantai di gazebo bambu sambil menikmati suara alam. Tempat ini sering menjadi tujuan keluarga, komunitas, dan wisatawan yang mencari suasana tenang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Dengan pelayanan yang ramah dan suasana yang damai, iiBumi menjadi simbol gaya hidup yang menghargai alam dan kearifan lokal. Nama “iiBumi” sendiri mencerminkan semangat kembali pada akar — pada alam, rasa, dan kebersamaan.
Bagi siapa pun yang melintasi jalur Padang–Bukittinggi, iiBumi Kayu Tanam adalah persinggahan sempurna untuk beristirahat, menikmati hidangan sehat, dan merasakan ketenangan di tengah keindahan alam Minangkabau. Di sini, setiap hidangan dan hembusan angin membawa pesan sederhana: bahwa keseimbangan hidup dimulai dari rasa syukur kepada bumi.